
Orkes Sakit Hati Di Pentas Pilgub
Oleh Qizink La Aziva
Kawanku yang awam dunia politik selalu enggan jika diajak untuk menghadiri kampanye, baik untuk kampanye pemilihan anggota legislatif, pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan kepala desa (pilkades), bahkan pemilihan RT sekalipun. Begitupun ketika saya memintanya untuk meluangkan waktunya untuk menghadiri kampanye pemilihan gubernur (pilgub) Banten mendatang. Ia akan dengan tegas menolak setiap ajakan menyaksikan kampanye, baik kampanye terbuka maupun tertutup.
Kawanku beralasan, tanpa menghadiri pun dirinya bisa mengetahui isi materi yang dikampanyekan. Menurutnya, materi kampanye tak pernah berubah dari masa ke masa. Kampanye di pentas pilgub ibarat sebuah orkes yang nadanya selalu sama, misalnya mensejahterakan rakyat, pendidikan murah, menciptakan lapangan kerja, atau jaminan investasi. Kalau materinya selalu sama lantas untuk apa berpanas-panasan menghadiri kampanye, begitu temanku selalu beralasan.
Kawanku ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak masyarakat yang sakit hati dengan orkes yang dimainkan para calon di pentas pemilihan. Mereka tentu saja sakit hati, karena pentas pemilihan yang semestinya bisa membawa perubahan ternyata hanya ajang pemutaran lagu-lagu lama. Bagaimana mungkin ada perubahan, kalau janji yang disampaikan dalam kampanye tetap sama. Kawanku berkelakar, kampanye tak ubahnya pedagang yang menjual kecap. Mereka berlomba-lomba menawarkan produknya dengan mencap bahwa kecap mereka sebagai kecap nomor satu. Biar beda gayanya, tetap saja produknya sama, yakni hitam dan cair.
Analisa kawanku yang awam ini memang tak salah. Kita kerap menyaksikan para tokoh dalam pemilihan selalu mengkampanyekan isu yang sama. Sehingga walaupun bendera partai pengusung mereka berbeda, janji-janji politik yang mereka utarakan dalam pentas kampanye akan selalu sama. Calon dari partai nasionalis atau demokrat akan mengangkat isu pendidikan, kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan peningkatan investasi, dengan semangat nasionalisme atau demokrasi. Begitupun dengan partai berlandaskan agama, akan mengangkat isu serupa. Agar lebih menarik, materi kampanye itu dibumbui dengan dalil-dalil agama yang sudah dihapalnya di luar kepala.
Para calon dalam setiap pemilihan seperti kurang kreatif untuk mengangkat isu-isu menarik dalam setiap kampanyenya. Mereka hanya mengangkat janji-janji kampanye yang melambung. Tak ada misalnya, seorang calon yang dalam kampanyenya mengangkat isu akan membuat sebuah gedung perpustakaan representatif untuk menarik para pemilih dari kalangan pecinta buku, berjanji membuat gedung pertunjukkan seni untuk menarik hati para pemilih dari kalangan seniman.
Nada kampanye yang serupa itu tentu saja akan sangat membosankan bagi para pendengarnya. Apalagi jika nada kampanye itu hanya berupa suara yang tak jelas juntrungannya, karena janji yang dilontarkan dalam kampanye tak pernah ditepati.
Menurut kamus Webster yang saya peroleh, kampanye atau campaign adalah a connected series of operations designed to bring about a particular result (maafkan saya dengan kutipan bahasa asing ini), yaitu serangkaian operasi yang didisain untuk memunculkan hasil tertentu. Kampanye ini biasanya timbul berkaitan dengan masih adanya bias, permasalahan, atau penyimpangan yang terjadi di lapangan di mana berbagai fenomena belum berjalan sesuai dengan harapan. Dalam konteks berpartai politik berkampanye berarti masih adanya peluang untuk meningkatkan lagi potensi suara. Untuk meningkatkan jumlah suara ini, para calon yang berkampanye dipastikan akan mengobral janji untuk menarik hati para pemilih. Tapi janji-janji manis itu tentu saja akan pahit dan membuat sakit hati, bila janji itu tak ditepati.
Hingga saat ini memang belum ada aturan yang melarang seseorang berkampanye atau berjanji di pentas pemilihan. Bahkan kampanye merupakan bagian tahapan dari sebuah proses pemilihan. Tapi berdasarkan ajaran agama yang saya yakini, janji merupakan utang. Dan utang wajib hukumnya dibayar. Kalau tak dibayar, maka sanksinya adalah hukum yang maha berat di akhirat. Pada sebuah sinetron di televisi swasta yang pernah saya tonton, ada seseorang yang meninggal dunia dengan lidah yang selalu menjulur dan mata melotot gara-gara sering mengingkari janji. Maka saya ingin sekedar mengingatkan (bukan menakut-nakuti) kepada para calon gubernur atau wakil gubernur yang hendak berkampanye tidak usah muluk-muluk mengumbar janji kalau memang tak bisa ditepati, karena bisa saja nasib yang menimpa tokoh dalam sinetron itu menimpa kalian.
Pengingkaran terhadap janji kampanye di pentas pemilihan juga bisa menimbulkan kekecewaan bagi para pemilih. Para pemilih akan bersikap apatis terhadap pemerintah. Olehkarenanya sebelum janji-janji kampanye dipentaskan, saya ingin mendendangkan sebuah lagu dari Slank yang berjudul Orkes Sakit Hati. Harapan saya, lagu ini bisa mengingatkan kita semua, untuk tidak ingkar terhadap janji.
Jangan kau kecewakan aku lagi
Aku enggak mau menderita lagi
Kalau ingkari janji
Aku nggak mau kebawa emosi
Jangan biarkan aku sakit hati
Karena ingkari janji
Cinta dan kepercayaan yang ku berikan
Jangan sampai kamu sia-siakan
Dengan ingkari janji
Jangan-jangan kau bohongi aku lagi
Banyak bicara cuma basa-basi
Coba ingkari janji
Semua yang kau inginkan s’lalu ku beri
Kulakukan semua walau sampai mati
Jangan ingkari janji
Kebebasan yang kamu dapatkan
Bukan jadi kamu boleh sembarangan
Kamu sudah berjanji
Jangan ingkari janji
Mending jangan berjanji. (***)

